The cronicles of: Fantasy
Auth: Wiko staro
Team Creator:
Wiko staro
Ferdinand Leoangga
M. yasilukian
Genre: Fantasy, Fiksi ilmiah, Adventure, Romance, Comedy
.
Chapter 1
Rak buku misterius
.
.
.
Staro's PoV
.
Bumi 2021
.
Angin pagi hari, tidak, ini bukan angin pagi hari. ini adalah hembusan angin yg bisa ku rasakan seiring cepatnya motorku melaju. lagipula matahari sudah mulai menyengat
.
Aku bertanya-tanya jam berapa sekarang?. tapi mungkin pertanyaan itu sudah tak berlaku lagi untuk saat ini, karena aku menyadari aku sudah sangat terlambat!
.
Ya kalian pasti berfikir kalau aku ini adalah seorang siswa menyedihkan yg selalu terlambat datang ke sekolah. sepertinya Anggapan itu benar. namun tak setiap hari aku ini terlambat. satu-satu nyA yg membuatku terlambat adalah apabila ada event baru yg tak boleh di lewatkan oleh setiap gamers mmo. game mmo rpg seolah menyihirku untuk terus berada di dalamnya. di sana aku bisa melakukan banyak hal menakjubkan yg tak bisa di lakukan di dunia yg menyebalkan ini, yah jika bisa, aku sangat ingin bisa mAsuk langsung ke dunia fantasy seperti itu. tapi sepertinya untuk anak ipa yg memahami hukum alam sepertiku, itu terlalu konyol. oh tak ku sadari ternyata jarak ku sudah lumayan dekat dengan sekolah.
.
oh itu dia!. aku dapat dengan jelas melihat pintu gerbAng sekolah yg masih sedikit terbuka dan untungnya tak terlihat ada penjaga di sana.
.
saat sudah dekat dan mulai masuk ke halaman depan sekolah mataku tak bisa berhenti menoleh ke kiri dan ke kanan. mungkin saja pak penjaga masih ada di sini.
.
namun sepertinya ini adalah hari keberuntunganku. dengAn cepat ku parkirkan motorku dan berlari menuju kelas, lewat sisi belakang pastinya. sedikit menyebalkan di mana kau harus berlari menuju kelas yg letaknya jauh di ujung.
.
"tap tap tap!!!" suara langkah kakiku yg terdengar jelas di tengah hening nya sisi belakang ini
.
akhirnya aku sampai. namun aku tak berani untuk masuk langsung. aku mencoba mengintip lewat jendela belakang. ketakutan dan kehawatiran mewakili keringat yg bercucuran di dahiku itu. mengingat hari ini ada pelajaran fisika yg mana pak guru killer menguasai ruang kelas.
.
"tAp!"
.
tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahuku. pikiranku kosong seketika. mAtaku tak berkedip. aku mencoba memberanikan diri untuk melihat ke belakang. pikiranku tak bisa berhenti memikirkan kemungkinan buruk yg akan terjadi. lalu akhirnya
.
"hoiiii apa yg kau lakukan di sini!"
.
"huwaaaaaa!!!" sontak aku berteriak saat mendapati seorang perempuan yg sebenarnya satu kelas denganku. oh aku lupa mengatakan kalau dia adalah sekertaris kelas kami. namanya clarisa oktaviani. dia idola di sekolah ini. ya anak pemilik sekolah dan parasnya itu dapAt meluluhkan siapapun yg ada di sekolah ini di tambah dia sangat pintar bernyanyi. namun aku kurang atau sangat tidak menyukainyA karena dia ini sering menggangguku saat Aku tengah asik ngegame
.
"payah. kau mengagetkanku"
.
"Siapa suruh mengintip-ngintip seperti itu. tidak sopan! .gara-gara kau! aku jadi ketinggalan acara favoritku" ucapnya dengan suara sAngat keras. oh ya ampun aku bisA tuli kalau lama-lama di sini
.
"lah? kenapa salahku? aku saja baru sampai" jawabku sedikit membela diri meskipun aku tau aku takkan pernah menang berdebat melawan perempuan.
.
"ya iya karena itulah, kau terlambat lagi dan aku malah di suruh mencarimu. kau ketinggalan 2 jam pelajaran fisika dan dengan sangat senAng hati aku menyampaikan kalau kau di panggil oleh pak eko di ruangannya sekarang!" Aku mencobA menutup telingaku karena suaranya itu menggelegar ke seluruh lorong. kemudian ia pergi dengan tatapan kesal meninggalkanku yg mematung di sana.
.
"oh ya ampun. kalau tau begini aku akan lebih bersyukur kalau sudah tertangkap di pintu gerbang tadi"
.
***
.
dengan malasnya aku berjalan menuju ruang pak killer itu. keringat bercucuran di dahiku seiring dengan berat nya langkah kakiku sampai akhirnya aku tiba di depan pintu ruangan.
.
"kring!!!"
.
bertepatan dengan langkah terahir tiba-tiba suara yg bagi murid lain terdengar menyenangkan itu berbunyi. yah itu bell istirahAt.
.
"oh ya ampun, ini akan jd hari yg membosankan" batinku
.
benar saja dugaanku. detik demi detik berlalu dengan ceramah yg makin lama makin keras. yg saat ini bisa ku pikirkan adalah kemungkinan terburuk apa yg akan menghampiriku.?
.
***
.
akhirnya aku bisa keluar dari ruangan yg sudah menjadi rumah ke duaku itu. namun di sisi lain aku sedikit merasa damai karena hukuman kali ini yg ku terima tak terlalu buruk yaitu membersihkan dan merapikan perpustakaan. yap. perpustakaan rumahnya para buku. perpus SMA kami lumayan besar namun jarang ada yg ke sana , kalau kau bertanya tentangku yah seorang gamers sepertiku mana ada waktu untuk hal seperti itu.
.
tapi ada satu rumor yg mengatakan kalAu penjaga perpus itu sama galak nya dengan pak killer. ia tak pernah terlihat tersenyum dan ia sangat agresif apalagi jika seorang mendekAti rak tua yg berdiri di sudut belakang yg isinya hanya buku-buku sejarah tua. sepertinya ia sangat melindungi buku-buku tersebut. akh entahlah, aku tak peduli. lagipula tahun sekarang adA yg mau membaca buku?
.
"akhirnya sampai" gumamku di depan pintu ruang perpus sembari melihat kekiri dan kekanan. sebenarnya di sini cukup ramai. namun kebanyakan orang di sini hanya mengabaikan perpustakaan ini. hanya terlihat satu dua sepatu yg terletak di depan pintu. mungkin ada beberapa murid yg membaca.
.
"uhm. yasudahlah" gumamku sembari mulai melangkah masuk
.
"huwaa! kau sedangn apa!"
.
"Huwaaaaa!!!" sontak aku terkejut mendengar suara yg di barengi dengan sedikit dorongan dari belakang itu. aku menoleh ke belakang dan mendapati dua mahluk menyedihkan tengAh tersenyum nyengir ke arahku.
.
"akh! payah kalian ini apa tak ada cara yg lebih sopan"
.
"huahahaha, maaf sob, kita penasaran melihatmu keluar dari ruangan pak eko. lalu kita ikuti sampai sini" jAwab salah seorang yg sedikit lebih tinggi dariku. oh ya. mereka berdua ini teman satu kelas, satu party, dan satu guildku dalam game. kami bertiga lumayan akrab dan punya pemikiran yg sama, mungkin itulah yg menyebabkan kami mudah akrab.
yg lebih tinggi itu namanya leo. sebenarnya dia tidak ada gunanya haha. tapi di dalam game, dia sangat dapat di andalkan.
lalu yg sama tingginya denganku itu bernama kian. dia sosok yg Aneh dan menyebalkan kadang ramah, kadang dingin, kadang juga bersikap humoris dan spontan. dia tidak menyukai pelajaran apa lagi yg mengandung catatan. dia adalah orang yg to the poin dan tidak suka bertele-tele, di dalam game pun begitu, dia langsung menerima quest tanpa membaca apa perintah quest itu.
.
meskipun begitu. tapi merekalah yg mengisi hari-hariku sejak pertama aku masuk SMA. aku bersyukur bisa mengenal mereka.
.
"Ok, jadi apa tujuan kita ke sini?" ucap kian membuka percakapan
.
"humm, aku dapat hukuman dari pak killer untuk membersihkan perpus-"
.
"Huss! . pak killer pak killer. pak eko, kau tidak sopan" seru leo menyela kalimatku
.
"lah? terserah padaku mau manggil apa, lagipula gelar itu cocok untuknya" jawAbku menatap leo yg di barengi dengan tawa dari kian
.
"hahaha! pak killer. haha, sudahlah kalian. jadi intinya kau dapat hukuman jadi babu perpus" ujar kian mengejekku
.
"enak saja kau, aku hanya di suruh bersih-bersih dan merapikan. nah berhubung kalian ada di sini. maka aku sebagai wakil ketua guild memerintahkan kalian untuk membantuku"
.
"apaaa?!!" ucap mereka berdua berbarengan menatapku
.
"tapi itukan hanya jabatan di dalam game" ucap leo menatapku malas
.
"oh tidak mau? ok. aku akan menurunkan pangkatmu dari great knigh ke-"
.
"oi oi, jangan! . bAiklah" seru leo dengan nada suram. hahaha aku suka raut muka nya
.
"haha, baiklah kalau begitu" jawabku nyengir ke arah mereka berdua
.
"hemmz!" tiba-tiba terdengar suara serak dari belakang.
.
seperti suara seseorang? kami bertiga serempak menoleh dan mendapati seorang kakek tua dengan kumis panjang tengAh menatap kami. ia terlihat kurang senang dengan dahi di tekuk.
.
"ada apa ribut-ribut di sini" serunya dengan suara serak. mengerikan. inikah penjaga perpus itu? melihatnya saja kami sudah mematung.
.
"anu pak, kami dapat hukuman. membersihkan perpus" jawabku memberanikan diri untuk bicara dengan nadA pelan
.
"masuk" ujarnya singkat. lalu ia pergi ke dalam
.
ya ampun ternyata di sekolah yg serba modern ini. ada juga orang yg terlihat seperti penyihir.
.
"baiklah kalau begitu, silahkan kalian duluan"
.
"kenapa kami? kan kau sendiri yg dapat hukuman"
.
"hadeh, baiklah" gumamku pelan lalu mulai melangkah masuk di ikuti oleh leo dan kian
.
***
.
20 menit berlalu di dalam ruangan yg sebenarnya luar biasa indah ini. jam masuk sebenarnya sudah lama berlalu di mana kami menghabiskan 15 menitnya di sini. aku tak menyangka kalau orang-orang tidak mau masuk ke sini hanya karena rumor bodoh. lagipula menurutku penjaga perpus itu tak terlalu menyeramkan. dia hanyalah kakek tua yg sibuk dengan urusannya sendiri.
.
"hei apa yg kau pikirkan?" pertanyaan leo itu berhasil menyadarkanku dari lamunanku
.
"eh?! tak. tak apa. hei di mana kian?" jawabku yg kemudian menyadari bahwa kian tak ada di dekat kami
.
"eh? humm ntahlah. mungkin dia tengah sibuk di bagian belakang?"
.
"ayo kita lihat" ujarku yg sudah selesai merapikan buku kemudian berjalan ke bagian rak paling belakang
.
benar saja, ternyata kian memang tengah sibuk di sini. eh? tunggu. ia lebih terlihat seperti mengutak atik sesuatu dari pada bersih-bersih? dan lagi, inikan rak tua itu
.
"hoi kau sedang apa?" seruku sembari menyentuh pundak kian
.
"stttts!. diamlah dan lihat" jawabnya pelan
.
"apanya?" sambung leo yg memperhatikan kian sedari tadi
.
"apa kau tak merasa aneh? kakek penjaga itu selalu terlihat agresif saat orang-orang mendekati rak yg satu inikan? pasti ada sesuatu di sini" jelas kian yg masih sibuk mengutak atik buku di sana. ia membuka halaman buku sejarah tua itu satu per satu.
.
"hei tapi itu wajar sajakan? mengingat buku-buku di rak ini sudah tua dan rentan untuk sobek?" ujar leo menerangkan
.
"hummz, benar juga yg di katakan leo. tapi tak ada salahnya kita mencari tahu jawabannya" gumamku di belakang yg sibuk memperhatikan rak itu. buku buku, dan tiap sisi pada rak nya tak luput dari pengamatanku. namun aku tak menemukan sesuatu yg aneh di sini
.
"oh ayolah. bagaimana nanti jika kakek pengawas itu tahu kita di sini-"
.
"maka dari itu jangan berisik!" sahut kian memotong kalimat leo
.
"eh?!" tiba-tiba pulpen yg ada di kantong bajuku terjatuh karena terkena siku ku
.
pulpen itu menggelinding ke bagian bawah rak buku. kian dan leo juga memperhatikan pulpen itu dan mencoba mengambilnya, namun sayang ia sudah terlanjur terselip di bawah sana
.
"wah? sial" seruku langsung membungkuk dan mencoba melihat dari cela bawah rak buku yg sangat sempit itu.
.
"sudahlah iklaskan saja" ujar leo pelan memperhatikanku yg tengah membungkuk
.
"enak saja kau bicara. pulpen itu sangat berharga untukku" jawabku yg bersikeras mencoba mencarinya. oh ya ampun di bawah sini sangat gelap
.
"ada yg punya senter?" tanyaku. keduanya hanya membisu memperhatikanku
.
"eh. ya. aku tak punya senter, tapi laser dari pistol mainanku ini mungkin bisa membantu" ujar kian sembari memberikan sebuah laser kecil. ya ini lumayan bisa memberikan cahaya.
.
ku hidupkan laser kecil itu dan akhirnya bisa ku temukan di mana lokasi pulpenku. tapi
.
"eh?" ada yg aneh di sini. saat aku menggeser kan sinar lasernya. nampak bahwa ujung dari sinar laser itu terlihat lebih jauh seolah dindingnya berada lebih jauh. namun bukanya ini adalah bagian paling belakang perpus?
.
"apa sudah selesai?" tiba-tiba suara serak itu sontak mengagetkan kami bertiga
.
"Kriiiiiingg!!!" suara bel jam istirahat ke dua berbunyi menandakan sudah tengah hari
.
"sudah kek" jawab kami bertiga serempak yg segera berdiri
.
"silahkan istirahat" jawabnya singkat namun untuk kali ini dia tak langsung pergi melainkan malah memperhatikan kami bertiga dengan tatapan dingin
.
menyadari hal itu, kami bertiga akhirnya mulai beranjak pergi dari sana hingga menuju pintu keluar
.
"sial. gara gara mengurusi pulpen kita jadi kehilangan waktu sampai akhirnya kakek aneh itu melihat kita" gerutu kian di luar membuatku sedikit jengkel
.
"Diamlah! apa kau akan membiarkan begitu saja, ketika melihat sesuatu yg amat berharga untukmu itu hilang dari genggamanmu?. Lagipula kenapa kalian malah ikut mengurusi urusanku tadi, sedangkan kalian masih bisa melanjutkan penyelidikan bodoh itu." perkataanku itu berhasil membuat suasana menjadi hening hingga akhirnya kian kembali angkat bicara
.
"Laserku itu benda penting"
.
"itu alasan yg kurang signifikan. tapi aku menghargainya. ini!" jawabku yg mulai jengkel bersamaan dengan melempar kembali laser milik kian itu padanya. lalu aku pergi dari sana tanpa menoleh ke belakang
.
***
.
"menyebalkan" batinku
.
"eh?" sekilas aku melihat sosok seorang wanita yg melewati dinding di sisi samping ruang kantor guru. tapi tadi itu mirip dengan? ah. mungkin hanya perasaanku saja
.
tak terasa aku berjalan. ternyata sudah tiba di depan ruang kelasku. humm. setidaknya aku bisa duduk di sini dan mungkin ada waktu untuk melanjutkan gameku. tapi yah. ketenangan batin ku tiba-tiba hilang saat ingat bahwa si sekertaris kelas itu duduk di sampingku.
.
"hadeuh, yasudahlAh" gumamku pelan sembari melangkah masuk
.
ya ampun di dalam sini sangat panas. meski ini th 2021 tapi sepertinya kesejukan mesin pendingin belum menghampiri kami yg sudah hampir mati kepanasan di sini
.
aku menoleh kesamping dan mendapati sekertaris kelas alias clarisa tengah asik dengan urusannya sendiri.
.
"bisa kecilkan sedikit volume nya? musikmu seakan menambah kepanasan kelas ini"
.
"aku tak dengar" sahutnya masih asik dengan smartphone nya itu
.
"untuk saat ini aku tak ingin bermain-main"
.
"aku juga" jawabnya lagi seakan sengaja mengabaikanku
.
"akh. tak ada gunanya bicara dengannya" ujar batinku melihatinya dengan tatapan malas
.
"huh? ada apa? jangan lama lama lihatnya nanti naksir" ucapnya saat ia menyadari tatapan malasku
.
"Astogeh. aku tak tahan lagi" dengan malasnya aku berjalan keluar meninggalkan kelas yg suasananya seperti kapal pecah ini
.
di luar suasananya sangat hening, hembusan anginpun terasa menyegarkan di tengah panasnya siang ini.
.
"humm... sejuk" gumamku
.
"hei? kau sedang apa?" tanya suara seorang perempuan dari belakang
.
"makan angin" jawabku sekilas
.
"tolong menyingkir dari sana, aku ingin membuang sampah-sampah ini"
.
oh ya ampun. baru ku sadari aku berdiri di dekat tempat sampah
.
"kring!!!" Akhir nya bel pulang yg di tunggu-tunggu berbunyi
.
"pulang?! tolong buang ini ya!" ujar perempuan itu spontar mendengar bel lalu lari menuju kelas untuk mengambil tas nya
.
"astogeh" gumamku dalam hati mematung di sana menatap ke arah jendela kaca. orang-orang mulai keluar dari dalam kelas tak terkecuali dengan risa
.
"wah? HahahAha! bang, tolong itu yg di selokan di bersihin juga ya" ucap risa saat melihatku
.
"huee? sialan" batinku
.
dengan malas aku membuang kantong penuh sampah itu ketempatnya kemudian beralih mengambil tas dan meninggalkan kelas
.
***
.
sampai di rumah
.
"aku pulang"
.
"eh? kakak?" langkahku tiba-tiba terhenti saat menyadari kak keila berdiri dengan tatapan tajam ke arahku, ada apa? tak biasanya?
.
"ponsel" ujarnya
.
"apa?"
.
"ponsel kamu mana?!" bentaknya, ke kenapa ini? tak biasanya kakak marah-marah
.
"a ada ini kak, eh itu pc mau di apain?" ucapku melihat pc yg biasa nya terletak di mejaku, kini berada di atas meja tempat makan lengkap dengan kotaknya
.
"baik kalau kamu tidak mau berikan ponsel, tapi kakak akan tetap sita pc kamu"
.
"wah? kenapa gitu kak? oh ayolah, itu satu-satunya sarana belajar-"
.
"sarana belajar?, apanya yg sarana belajar, yg ada di pc kamu cuman game, game, dan game!, bahkan kamu sampai lupa dunia karena game!, kamu selalu terlambat datang sekolah kan, dan bahkan kamu ngaku ke guru kalau itu semua karena main game?, kakak malu staro! kakak malu"
.
"eh?! i itu-"
.
"sudahlah, kakak akan sita pc kamu, kalau cuma mau belajar, perpustakaan kota terbuka untuk umum, dan kakak akan hapus semua game kamu"
.
"apa?! kakak yg benar saja"
.
"apanya?! kakak cuman ingin kamu kembali ke diri kamu sewaktu smp, selalu juara kelas." gumam kak kei tiba-tiba menunduk
.
"sudahlah, kakak yg akan simpan pc kamu" ujar nya kemudian pergi membawa pc ku entah kemana
.
hatiku tiba-tiba sakit saat mendengar kata SMP itu. sebuah ingatan yg sudah lama ku lupakan. i itu. benar-benar menyakitkan. insiden kebakaran di hari itu. akh! aku tak ingin mengingatnya!
.
***
.
malamnya aku tak keluar kamar. pikiran ku tak bisa berhenti memikirkan kejadian di hari itu. hawa api yg panas itu bisa jelas ku rasakan. kemudian kejadian setelahnya. di mana, seorang sahabat terdekatku sewaktu kecil. harus menyerah akan perjuangannya di rumah sakit
.
"akh! kenapa! padahal aku sudah melupakannya!" mataku berkaca kaca
.
"dring!!!" suara dering ponselku berbunyi. namun hatiku sudah amat berat untuk menyambutnya
.
"dring!!!" ia berbunyi lagi untuk ke dua kalinya
.
"dilung! dilung!" kali ini sebuah pesan messenger masuk
.
dengan pelan aku mulai membuka ponselku dan membaca sebuah pesan. ini dari kian
.
"Dari kian: jIka KaU ingGIn pulpenmu kembali, mari kita cari. ku tunggu kau di depan pagar sekolah"
.
"apa?! apa maksudnya" gumamku pelan
.
"Dilung!" pesan lagi, kali ini sebuah kutipan suara
.
"Isi pesan: kita lakukan sekali lagi" sebuah kalimat singkat. jadi begitu ya. uhm baiklah
.
aku segera turun ke bawah untuk meng hidupkan motorku siap menuju ke sekolah, jam menunjukkan pukul 8 malam
.
Akan ku ambil lagi pulpen itu, karena itu pemberiannya. dan akan ku ungkap tabir tabu di balik lemari buku misterius itu...
.
"Brumm!!!"
.
.
.
Bersambung...
.
auth note: Wah gimana chapter 1 nya keren gak? hoho. walaupun ada beberapa kosa kata yg sulit di mengerti. tp nanti di setiap chp akan di jelaskan setiap kosa kata yg sulit itu
.
Author : Wiko Staro

Tidak ada komentar:
Posting Komentar